Analisis Sosial Ekonomi Pemanfaatan Limbah Hasil Pembakaran Batubara pada Industri

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 05:10  


Seiring dengan semakin tingginya harga bahan bakar minyak (BBM), banyak kalangan industri kecil dan menengah (IKM) yang mulai mengalihkan penggunaan bahan bakarnya ke batubara. Pemakaian batubara saat ini tidak hanya didominasi oleh industri tekstil, industri lain pun sudah banyak menggunakan seperti industri kertas, obat-obatan dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat dari data hasil penelitian tahun 2009 yang menunjukkan bahwa pada tahun 2009 jumlah IKM pemakai batubara sekitar 316 perusahaan, namun pada tahun 2010 sudah tercatat sebanyak 508 perusahaan. Dengan demikian, jumlah IKM pemakai batubara telah mengalami kenaikan sebesar 60,75%. Jaminan ketersediaan juga didukung oleh besarnya cadangan batubara yang dimiliki Indonesia saat ini, yaitu sekitar 22,25 miliar ton.

Biaya bahan bakar menggunakan batubara 50-60% lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan BBM, namun permasalahan baru yang timbul dari pemakaian batubara ini adalah limbah hasil pembakaran batubara (LHPB). LHPB ini terdiri dari dua jenis yaitu abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash). Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa kedua jenis abu ini di kategorikan sebagai bahan berbahaya dan beracun (PP No. 18 Tahun 1999). Para ahli menyatakan bahwa dari setiap aktifitas pembakaran batubara akan menghasilkan antara 5-10% LHPB, tergantung dari sistem pembakarannya.

Metodologi yang digunakan dalam penelitian adalah pengumpulan data primer dan data sekunder serta analisis Kelayakan Investasi. Metode yang dapat dipakai dalam penilaian kriteria investasi,yaitu Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Payback Period (PP).

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa selama batubara masih menjadi pilihan utama sebagai pengganti BBM, maka diprediksi akan semakin banyak IKM yang akan menggunakan batubara sebagai bahan bakar untuk kegiatan produksinya. Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara penggunaan batubara dengan limbahnya. Dengan kata lain, semakin banyak batubara yang digunakan akan semakin banyak pula abu dasar dan abu terbang yang dihasilkan dari pembakaran batubara setiap IKM.

Hanya 26,04% saja IKM yang memiliki TPS berizin, akibat keterbatasan lahan untuk menyimpan sementara LHPB. Biasanya mereka memanfaatkan pihak ketiga atau pemasok batubara untuk mengangkutnya. Namun diduga, tidak semua para pengangkut limbah tersebut memiliki izin pengangkutan limbah dari KLH. Dikhawatirkan pembuangannya dilakukan di sembarang tempat tanpa sepengetahuan instansi yang berwenang, sehingga dapat merusak lingkungan. Jumlah LHPB diperkirakan mencapai 686.061 ton, 54,86% diantaranya belum dimanfaatkan dan tidak diketahui keberadaannya. Apabila LHPB ini terus berlangsung dikhawatirkan jumlahnya akan semakin banyak seiring dengan semakin banyaknya batubara yang digunakan oleh IKM.

LHPB dapat digunakan sebagai bahan baku tambahan dalam pembuatan batako, paving blok atau bata merah. Usaha ini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatn daerah. Usaha ini sangat berperan dalam mengatasi permasalahan lingkungan yang disebabkan oleh adanya LHPB.