Desulfurisasi BBM Dengan Metode Membran dan Adsorpsi

Diposting : Selasa, 14 Februari 2012 10:41  


Spesifikasi BBM Indonesia yang ditetapkan selama ini terutama mempertimbangkan kemampuan teknis kilang minyak dalam negeri dan kemampuan keuangan pemerintah yang terkait dengan beban subsidi BBM. Dengan demikian spesifikasi BBM di Indonesia belum sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan BBM yang sesuai dengan perkembangan teknologi mesin kendaraan bermotor, perkembangan spesifikasi BBM Internasional dan tuntutan persyaratan lingkungan hidup terkait kualitas udara yang semakin ketat.

Kandungan maksimum sulfur yang ditetapkan dalam spesifikasi bensin Indonesia ialah 0,05 % m/m (500 ppm), dan untuk minyak Solar ialah 0,35 % m/m (3500 ppm), Walaupun kandungan sulfur aktual bensin Indonesia jauh dibawah yang ditetapkan dalam spesifikasi, tapi kandungan ini masih jauh lebih besar dari yang ditetapkan oleh World Wide Fuel Charter (WWFC) kategori II; 150 ppm, dan kategori III; 30 ppm untuk bensin, sedangkan untuk solar Euro II; 500 ppm dan Euro III; 300 ppm.

Teknik desulfurisasi konvensional hydrodesulfurisation (HDS) kurang efektif untuk mereduksi sulfur yang terikat sebagai organosulfur aromatik, seperti tiofen, benzotiofen, dibenzotiofen, dan turunannya. Selain itu, teknik ini cukup sulit dan membutuhkan investasi teknologi yang cukup tinggi, yaitu membutuhkan reaktor katalitik yang dioperasikan pada kondisi tekanan dan temperatur tinggi.

Teknik desulfurisasi membran dan adsorpsi efektif untuk mereduksi sulfur organoaromatik dan dapat dilakukan pada temperatur ambien serta tekanan atmosferik sehingga biaya investasi dan operasinya akan relatif lebih murah.

Metode penelitian meliputi rekayasa komposisi membran yang dapat melewatkan senyawa sulfur dan tidak terlarut oleh bensin atau minyak solar. Pelarutan sulfur ke dalam membran dan tidak terlarutnya membran dalam bensin atau solar dicoba dengan menggunakan polimer polietilen glikol yang diberi ikatan silang.

Kegiatan tahun 2010 merupakan kegiatan adsorpsi dan membran. Kegiatan adsorpsi mengarah pada regenerasi adsorben. Regenerasi dilakukan dengan 2 cara yaitu pemanasan dan pencucian dengan pelarut. Regenerasi dengan perlakuan panas (suhu 500oC) dapat menurunkan sulfur sampai 85 %, sedangkan regenerasi dengan perlakuan pencucian menggunakan aseton dapat menurunkan sulfur sebanyak 25,7 % dan perlakuan pencucian dengan toluene panas dengan volume 40 ml dalam 3 x pencucian merupakan volume regenerasi adsorpsi yang paling baik.

Kegiatan membran masih dititik beratkan pada pengembangan aplikasi dengan menggunakan system pervaporasi untuk bensin. Pada kegiatan ini dilakukan pengujian untuk penurunan sulfur terhadap bensin yang mempunyai kandungan sulfur tinggi dan mempunyai kandungan sulfur rendah.

Untuk kandungan sulfur tinggi (1200 ppm) dan kandungan sulfur rendah (300 ppm) menghasilkan faktor pengayaan sekitar 2,5 dan 3,0, dengan sistim Pervaporasi.

Persentase penurunan sulfur

Pencucian dengan larutan terpilih pada metode adsorpsi, memperlihatkan penurunan kadar sulfur mendekati blanko terjadi pada pencucian ketiga yang berjumlah 40 ml larutan pencuci toluene. Peningkatan jumlah pelarut memberikan pengaruh terhadap penurunan sulfur pada adsorben.