Kajian Potensi ESDM Dasar Laut Di Landas Kontinen Indonesia Di Luar 200 Mil Laut, Di Perairan Barat Aceh (Barat Laut Sumatra)

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 01:00  


Berdasarkan United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS, 1982), setiap negara kepulauan dapat dan dimungkinkan untuk menarik batas terluar LKI maksimum di luar 200 mil laut dari garis pangkal (pantai atau pulau terluar) dan maksimum hingga 350 mil laut dengan melakukan submisi yang didukung oleh data teknis dan ilmiah. Batas waktu melakukan submisi adalah tanggal 13 Mei 2009 dan akan diuji kebenarannya oleh Commission on the Limits of Continental Shelf (CLCS). Kesempatan yang demikian perlu dimanfaatkan oleh Indonesia dengan sebaik-baiknya, sehingga paling tidak batas klaim maksimum di luar 200 mil laut dapat memberikan manfaat terhadap yurisdiksi nasional dan kegiatan pengelolaan sumber. Pengajuan Klaim Landas Kontinen Indonesia diluar 200 mil laut sesungguhnya adalah menyangkut persoalan dan pemahaman tentang kondisi geologi di wilayah landas komtinen (Continenal Shelf) bawah permukaan laut dan potensi ESDM di lepas pantai.

Tujuan penelitian adalah pengembangan data dan informasi kelautan untuk pemanfaatan potensi ESDM dari Landas Kontinen Indonesia di luar 200 mil sebelah barat Aceh. Lokasi kajian merupakan daerah klaim landas kontinen di luar 200 M di sebelah barat Aceh atau barat laut Sumatra.

Berdasarkan penafsiran penampang seismiknya, daerah landas kontinen di luar 200 mil sebelah barat Aceh, merupakan kerak samudera yang dicirikan oleh amplitudo reflektor tinggi pada lapisan bagian atas dan di bawahnya merupakan fasies chaotic, di mana kerak samudera mendorong miring ke arah timurlaut. Bagian barat dari zona subduksi merupakan dataran abisal dari kipas aluvium Nicobar yang terletak lebih kurang 200 mil dari garis dasar Indonesia di Sumatra.

Hasil proyek pemboran laut dalam (DSDP 216 dan 217), memperlihatkan bahwa sedimen di sekitar daerah kajian terdiri dari karbonat yang diendapkan di puncak punggungan dasar laut yang ditutupi oleh sedimen lempung. Sedimen tersebut mempunyai ketebalan beberapa kilometer terutama di bagian utara kipas Bengal dan Nikobar dan semakin menipis ke arah selatan. Lebih lanjut hasil pemboran dalam DSDP 216 yang telah dilakukan di puncak punggungan “Ninety East” pada kedalaman laut 2.237 m dan terletak di sebelah barat daya lokasi kajian, sedimen dasar lautnya terdiri dari kerak samudera yang berasosiasi dengan batuan gunung api yang berasal dari punggungan “Ninety East”, glaukonit, tuf dengan rombakan basal.

Luas sedimen kipas Nicobar diperkirakan 3 X 105 km2 yang menyebar dari punggungan Nikobar. Berlimpahnya sedimen kontinen dan laut terakumulasi pada dataran abisal Nikobar dan sedimen berbutir halus menyebar sampai 800 km ke arah selatan.

Diperkirakan juga bahwa sedimen kipas Nicobar terdiri dari lumpur, endapan alur bawah laut yang berasal dari erosi punggungan “Ninety East” dan punggungan Nicobar. Lebih lanjut diperkirakan bahwa sedimen yang terdapat di kipas Nicobar terdiri dari endapan terigenous dan sedimen biogenik.Sedimen terigeneous yang berasal dari kontinen kemungkinan besar akan menghasilkan mineral besi (Fe), Aluminium (Al) dan Titanium (Ti).

Berdasarkan survei MD 149/SUMATRA AFTERSHOCKS dengan kapal peneliti Marion Dufresne pada lokasi pengambilan contoh dengan penginti jatuh bebas di lokasi MD05-2971 dan MD05-2982, maka sedimen permukaan dasar laut di cekungan Aceh di sebelah timurlaut daerah kajian terdiri dari lempung dan pasir sebagai endapan turbidity laut dalam. Hasil analisis Scanning Electro

Microscope (Puslitbang Geologi Kelautan) mineral lempung sedimen tersebut, antara lain kaolinit dan ilit.

Daerah klaim landas kontinen diluar 200 mil terletak di sebelah barat Aceh atau baratlaut P. Sumatra. Secara tektonik daerah ini dipengaruhi oleh sistem subduksi antara lempeng Hindia- Australia dan lempeng kontinen Eurasia. Daerah ini terletak pada kipas Nicobar yang juga dipengaruhi oleh Kipas Bengal, punggungan “Ninety East” dan punggungan Nicobar. Sedimen di sekitar kipas Nicobar diperkirakan merupakan endapan terigineous yang berasal dari kontinen dan sedimen biogenik dengan penyebaran yang sangat luas. Apabila sedimen terigenous sangat berpengaruh di sekitar daerah yang diklaim, maka diharapkan keterdapatan mineral dasar laut besi (Fe), Aluminium (Al), dan Titanium (Ti).