Kajian Sekuestrasi CO2 Skala Laboratorium pada Coal Bed Reservoir

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 06:44  


Indonesia memiliki coal seams yang tersebar dan sangat banyak di seluruh penjuru dengan deposit batubara terbesar terletak pada pulau Sumatra dan Kalimantan. Data menurut Direktorat Batubara menunjukan jumlah cadangan pada daerah tersebut mencapai 13 BT dan 9 BT. Oleh karena itu, pemanfaatannya sebagai tempat penyimpanan CO2 sangat berpotensi. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi basin suitability dan kapasitas adsorpsi serta menginvestigasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.

Dengan mengaplikasikan kriteria-kriteria screening yang dikembangkan oleh CCSTL dan IEA, tidak semua coal seams yang terdapat di lapangan Rambutan dapat menyimpan CO2 dalam fasa superkritis (Tabel 18. ), tetapi secara garis besar memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Selanjutnya dilakukan uji adsorpsi isotermal terhadap sampel batubara yang diambil dari lapangan Rambutan dengan menggunakan CBM Rig yang keadaannya disesuaikan dengan keadaan reservoir yaitu, 49, 50, 51, dan 62°C dan dengan tekanan 123 hingga 14000 kPa.

Variabel yang paling kritis dalam memodelkan adsorpsi isotermal dengan persamaan Langmuir adalah nilai dari densitas CO2. maka dari itu digunakanlah persamaan keadaan CO2 yang dikembangkan oleh Span dan Wagner.

Letak fasa CO2 di Lapangan Rambutan

Data hasil pengamatan laboratorium diolah menggunakan persamaan Langmuir untuk menggambarkan fasa CO2 yang teradsorpsi. Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas simpan adsorpsi CO2 rata-rata coal seams berkisar dalam rentang 3 sampai 4 kalinya bila dibandingkan dengan CH4. Kemudian diamati pula pengaruh kapasitas adsorpsi terhadap kenaikan temperatur dan kelembapan yang mana menunjukkan kapasitas adsorpsi berkurang seiring dengan meningkatnya variabel tersebut.

Jenis fasa CO2 pada berbagai seam