Kajian Stratigrafi Dan Batuan Reservoir Gas Hidrat Sebagai Terminasi Reinjeksi CO2 (Carbon Capture and Storage)

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 06:59  


Kegiatan kajian penentuan stratigrafi batuan reservoir untuk lokasi injeksi pada program Carbon Capture and Storage (CCS) sangat sesuai dengan program Global untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. Indonesia termasuk negara yang mendukung dan meratifikasi protocol Kyoto. Kegiatan ini mengkaji kelayakan dari aspek stratigrafi dalam menentukan lokasi injeksi pada program Carbon Capture and Storage (CCS) dan kajian stratigrafi pada batuan reservoir, khususnya di lapisan yang diindikasikan mengandung gas metan hidrat secara geometri dan karakterisasi reservoir yang memberikan data penting untuk injeksi CO2 pada program CCS.

Secara umum tujuan dari program CCS yaitu dengan program ini harus dapat dengan aman menyimpan sejumlah besar karbon dioksida (miliar ton) untuk waktu yang lama (ratusan sampai ribuan tahun). Dalam rangka meredam atmosfer CO2, CCS harus menghindari secara maksimal emisi CO2.

Kajian stratigrafi dan batuan reservoir gas hidrat metana dilakukan pada tiga wilayah studi kasus, yaitu Cekungan Bengkulu Lepas Pantai, Cekungan Kutai Laut Dalam termasuk wilayah Selat Makassar Utara, dan Cekungan Tarakan Lepas Pantai.

Kajian awal penerapan program CCS untuk lapisan reservoar gas hidrat masih minim data, dibutuhkan studi yang berkelanjutan dan perlu dikaitkan dengan lapangan produksi di laut dalam karena berkaitan erat dengan updated data geologi bawah permukaan dan infrastruktur migas.

Beberapa pilihan untuk tempat penyimpanan CO2. Kemungkinan tempat penyimpanan CO2 adalah Depleted oil and gas reservoir, CO2 digunakan untuk EOR, Reservoir dalam yang tersaturasi air formasi, Coal seam yang tidak dapat ditambang, Penggunaan CO2 untuk enhanced coal bed methane recovery, Alternatif lain seperti reservoir gas hidrat, basalt, shale dan lain-lain

Pada cekungan Bengkulu offshore, lapisan gas hidratnya terindikasi dari lapisan BSR pada penampang seismik multi channel dan telah mampu diprediksi potensi cadangan gas hidrat yang mencapai 625.4 tcf. Namun belum adanya data sumur pemboran, masih belum mencerminkan kondisi lapisan batuan reservoar yang sebenarnya (porositas, V-sh dan tekstur batuan). Lokasi cekungan ini belum dijumpai infrastruktur migas yang telah produksi. Berkaitan dengan indikasi keterdapatan gas hidrat metana pada umur Mio-Pliosen diprediksi pada Formasi Lemau bagian atas dan Formasi Simpang Aur. Dari aspek reservoir, kedua formasi ini, diperkirakan pada kisaran kualitas sedang dikarenakan kecil kemungkinan dijumpai batu pasir homogen, masif, dan sortasi baik. Diprediksi porositas dan permeabilitas fluida pada kedua formasi ini masih belum ideal sebagai reservoir gas hidrat dan menjadi lokasi storage untuk injeksi program CCS. Namun belum adanya data pemboran di wilayah Bengkulu lepas pantai, masih dimungkinkan peluang keterdepatan reservoir berkualitas baik sampai excellent.

Pada Cekungan Kutai di bagian laut dalam telah teridentifikasi gas hidrat dari lapisan BSR penampang seismik yang diprediksi mengandung hampir 67 tcf. Dari aspek lapisan reservoar hidrat yang berumur Mio-Pliosin telah berkembang sistem sub marine channeling dengan unit-unit genesanya. Kualitas reservoar termasuk good to excellence.

Di Cekungan Tarakan walaupun belum dijumpai indikasi BSR dari data penampang seismik yang tersedia namun diprediksi dengan metode kesebandingan dengan cekungan Kutai, lokasi ini berpotensi mengandung gas hidrat. Lokasi ini sangat strategis karena berada di wilayah perbatasan dengan Malaysia. Dari pemodelan 3D, luasnya distribusi net-reservoir dan tingginya kualitas reservoir tercermin dari posisi batas luar intertidal dan pergeseran pada area luar dari endapan gosong pasir (sand bar deposit) yang lebih ke basinward. Hal ini mengindikasikan keterdapatan reservoir berkualitas baik pada umur Mio-Pliosen yang diprediksi dijumpai lapisan gas hidrat metana.

Diagram alir kajian program CCS untuk penentuan stratigrafi dan reservoir gas hidrat