Pemanfaatan Gas Metan Dari Sanitary Landfill TPA Sampah Untuk Bahan Bakar dan Pembangkit Listrik

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 05:22  


Pada saat ini TPA sampah di kota-kota besar masih banyak yang menerapkan sistem open dumping, yaitu sampah ditimbun begitu saja di lokasi TPA tanpa dilengkapi dengan sistem pengendalian gas yang dihasilkan oleh timbunan sampah. Akan tetapi, dengan adanya Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, yang menyatakan bahwa pengelolaan sampah bertujuan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan serta menjadikan sampah sebagai sumberdaya,. Sebagian besar lokasi TPA yang baru dibangun, diwajibkan menggunakan sistem sanitary landfill dalam pengelolaannya. Gas metan yang dihasilkan dari sistem sanitary landfill dapat dimanfaatkan untuk bahan bakar pembangkit listrik (waste to energy).

Potensi sampah untuk energi listrik cukup menjanjikan. Data statistik persampahan Indonesia pada tahun 2008 menunjukkan 26 kota besar di Indonesia menghasilkan 23.204 ton sampah perhari, dengan persentase sampah organik sebesar 58 % atau setara dengan 278,71 MW.

TPA Suwung di Denpasar Bali telah memanfaatkan gas metan untuk bahan bakar pembangkit listrik dengan kapasitas terpasang 4 MW yang dioperasikan oleh PT. Navigat Organic Energi Indonesia. (PT. NOEI). Sumber gas yang dimanfaatkan berasal dari TPA open dumping yang telah ditutup dengan timbunan tanah (temporary landfill ) dan dari landfill cell. Sampah yang diolah dari landfill cell berasal dari empat kabupaten dengan volume sampah sebesar 800 ton atau 2400 m3 perhari. Teknologi yang digunakan adalah teknologi Galfad (Gasifikasi Sampah Landfill dan Anaerobik Digester).

TPA lain yang menggunakan sistem sanitary landfill dan akan memanfaatkan sampahnya sebagai sumberdaya adalah TPA Kebun Kongok Mataram dan TPA Bengkala Singaraja. Untuk TPA Kebun Kongok, sampah yang dibuang ke TPA tersebut sebesar 358 ton/hari, diperkirakan listrik yang dapat diproduksi kurang lebih 4 MW.Pada tahun 2010 kegiatan meliputi pembangunan pilot project pembangkit listrik gas landfill, di TPA Bengkala Singaraja dan penelitian teknologi produksi gas metan pada TPA IPST Sarbagita, Denpasar dan Bengkala, Singaraja.

Pembangunan pilot project tidak terlaksana. Anggaran untuk pembangunan tersebut diblokir dan setelah blokir dibuka, anggaran di bawah pagu sehingga rencana pembangunan direvisi dengan mengurangi lingkup pekerjaan, yaitu pembangunan landfill cell ditunda. Namun kegiatan ini tidak terlaksana juga karena gagal lelang.

Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi pengumpulan data primer dan sekunder serta analisis data.

Dari hasil penelitian gas metan menggunakan komposisi yang berbeda dan teknologi yang berbeda, komposisi gas metan yang terbesar adalah berasal dari kompogas yaitu sebesar 60 %. Di samping itu tidak terdapat kandungan O2 di dalam komposisi gas tersebut sehingga tidak terjadi pembakaran yang dapat menyebabkan hilangnya gas metan. Reaktor untuk proses produksi cukup rapat biasanya terbuat dari besi / stainless steel sehingga tidak terjadi kebocoran gas metan. Sedangkan gas metan dari landfill cell berdasarkan teori seharusnya komposisi gas metan bisa mencapai 50 persen atau lebih, namun yang dihasilkan dan komposisinya hanya 33.23 persen. Hal ini disebabkan karena terjadi kebocoran pada dinding cell dan penutup, sehingga banyak gas metan yang terbang ke udara. Demikian pula halnya dengan teknologi sanitary landfill, secara teori seharusnya komposisi gas metan bisa mencapai 50 persen atau lebih namun pada penelitian ini komposisi gas metan dengan teknologi ini hanya 28.28 persen. Hal ini terjadi karena penutup tanah pada lapisan atas terjadi perengkahan karena musim kemarau dan beberapa sumur ada yang bocor sehinga gas metan terbang ke udara.Pemilihan teknologi tergantung pada tujuannya, artinya apakah gas yang dihasilkan untuk mensuplai pembangkit listrik skala kecil atau skala besar dan apakah lokasi TPA yang tersedia cukup luas atau sempit.

 
Kekurangan dan kelebihan teknologi sanitary landfill, landfill cell dan kompogas  

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, problema yang sering dihadapi oleh PLTG Sampah adalah kontinyuitas produksi gas metan. Teknologi yang paling optimal dalam memproduksi gas metan adalah kompogas dengan komposisi gas metan sebesar 60 %. Di samping itu mudah pemeliharaannya dan tidak memerlukan tenaga kerja yang banyak.

Pada teknologi landfill cell terjadi infiltrasi O2 ke dalam sel karena terdapat kebocoran pada dinding dan penutup sehingga menurunkan komposisi gas metan menjadi 33.23 %. Pada teknologi sanitary landfill saat musim kemarau terjadi perengkahan tanah penutup sehingga terjadi kebocoran yang menyebabkan gas terbang keluar sehingga komposisi gas metan menjadi kecil yaitu 28.28 %.