Pemanfaatan Mikroalga Sebagai Bahan Baku Biodiesel

Diposting : Senin, 20 Februari 2012 05:57  


Indonesia sebagai negara kepulauan yang beriklim sama sepanjang tahun mempunyai potensi besar dalam mengembangkan alga, khususnya alga laut (marine algae), dibanding beberapa negara yang telah giat mengembangkan biodiesel alga. Meskipun Indonesia telah aktif memanfaatkan alga untuk berbagai produk seperti makanan, kosmetik, dan obat-obatan, tetapi biodiesel alga belum dikembangkan secara komprehensif.

Tujuan kegiatan adalah pembangunan sistem budidaya mikroalga sebagai bahan baku biodiesel secara out door dengan memanfaatkan gas buang dari PLTU batubara di Indonesia Power Suralaya. Metodologi kegiatan dilakukan dengan perancangan awal sistem budidaya mikroalga secara out door, perbaikan sistem perancangan, dan pembangunan sitem budidaya dan subsistem.

Budidaya dilakukan menggunakan kolam-kolam terbuka dengan kapasitas total kolam 80.000 liter Kultur. Untuk keperluan budidaya tersebut dibutuhkan lahan dengan luas area keseluruhan 2.500 m2. Budidaya dilakukan menggunakan air dengan kadar garam 15-25 ppt, yang didapatkan dari campuran air laut dan air tawar. Untuk satu kali budidaya mikroalga dilakukan selama 15 hari dibutuhkan air laut 40.000 liter dan air tawar 40.000 liter.

Aerasi dialirkan dengan kecepatan alir 0,05 vvm (0,05 volume udara/volume kultur/menit). CO2 dialirkan selama 8 jam (480 menit) dari pagi sampai sore hari sebanyak 3% dari jumlah aerasi. Kebutuhan CO2 per hari untuk 80.000 liter kultur mikroalga adalah 0,05 x 3% x 80.000 liter x 480 menit = 57.600 liter/hari.

Sistem budidaya dilakukan dengan memanfaatkan gas buang dari pembakaran batu bara di lingkungan PLTU Suralaya. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, pembangunan fasilitas sistem budidaya berlokasi di lahan kosong sekitar Unit 7 Sistem Pembangkit

 
Area yang tersedia untuk pembangunan kolam dan subsistem budidaya mikroalga  

Sehubungan dengan ketersediaan tempat di lokasi tersebut berbeda dengan kebutuhan dari perancangan awal sistem budidaya, maka dilakukan perancangan ulang sesuai dengan kondisi lokasi yang tersedia. Budidaya mikroalga dilakukan menggunakan 2 buah kolam yang dapat menampung medium mikroalga 40.000 liter.

Selain kolam budidaya dibangun juga 1 buah kolam penenang/penampung hasil panen, 1 buah kolam penanganan limbah, bangunan yang digunakan untuk menyimpan peralatan-peralatan budidaya agar lebih terlindung dan aman, dan bangunan berupa laboratorium kecil untuk melakukan aktivitas budidaya seperti penyediaan bibit, pemeliharaan biakan murni, pembuatan nutrisi medium dan pengolahan paska panen.

Selain bangunan, diperlukan juga beberapa peralatan pendukung, di antaranya blower digunakan untuk menarik gas dari sistem pembuangan PLTU ke dalam kolam pembiakan mikroalga; ultrafiltrasi berupa membrane hollow fiber untuk menyaring medium air laut yang akan digunakan sebagai medium untuk pembiakan mikroalga dan menyaring biomassa mikroalga dalam sistem panen; dan pompa air digunakan dalam proses penarikan baik air laut maupun air tawar dalam sistem budidaya.