Pemanfaatan Mikroalgae Laut di Perairan Indonesia

Diposting : Senin, 19 Desember 2011 05:08  


Pemanfaatan mikroalgae laut di perairan indonesia

Menindaklanjuti salah satu hasil diskusi pada Forum Knowledge Sharing bersama Prof. Riset Dr. Maizar Rahman yaitu bahwa CO2 dapat meningkatkan produksi mikroalgae dan Indonesia mempunyai garis pantai terpanjang di dunia (95.181 km). Sekretariat Badan Litbang ESDM menindaklanjuti Forum Knowledge Sharing dengan menghadirkan seorang Pakar Mikroalgae yaitu Sri Amini, M.Sc. Peneliti BBRP2B pada Badan Litbang Kementerian Kelautan Perikanan.

Pada paparannya Narasumber menyampaikan definisi tentang M ikroalgae, yaitu sebuah tanaman laut yang mikroskopis, jenis nya ada algae makro yang di buat agar-agar dan sebagainya, kalau yang dipaparkan saat ini adalah alga yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop, sehingga hanya bisa dilihat dari warna yaitu hijau atau coklat, tetapi bentuknya tidak diketahui apakah  mikroorganisme atau pito plankton, alga mikroskopik ini berfotosintesis dengan CO2 jadi seperti  tanaman tingkat tinggi, dapat memanfaatkan CO2 seperti tanaman di darat untuk mengembangkan sel-nya. Berkembang biaknya sangat cepat dengan daur hidup yang relatif pendek yang merupakan sumber rantai makanan di laut.

 

Sri Amini, M.Sc. sebelumnya berada dibawah Depertemen pertanian, dan saat ini berada di lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kebutuhan pangan dan pakan ini cukup diperlukan, sehingga diperlukan berbagai jenis tanaman mikroalgae yang berpotensi sebagai sumber protein, karbohidrat, dan lemak, kemudian untuk yang non-pangan seperti sunclorela itu adalah bahan baku yang disebut dengan jenis mikroalgae clorela, selain itu spirulina sebagai suplemen. Jenis mikroalgae non pangan umumnya dipergunakan untuk bahan kosmetik misalnya seperti masker dan lain-lain. Kecenderungan terbaru saat ini mikroalgae sebagai sumber energi baru terbarukan, dasar pemikirannya adalah :

  1. Kebutuhan energi dunia yang terus meningkat
  2. Semakin berkurangnya cadangan energi yang berasal dari fosil

Fenomena mikroalgae berpotensi sebagai sumber energi baru terbarukan mulai diperkenalkan pada tahun 1999, yaitu pito plankton ini sebagai pengganti buah jarak (bahan baku untuk biofuel).

Tanaman jarak adalah tanaman darat yang mudah di lihat, sedangkan mikroalgae ini agak sedikit rumit, karena berasal dari kata mikro, sehingga mengerjakannya pun dengan pada skala laboratorium. Pengembangan mikrolagae dilakukan dengan mengisolasi dari laut atau sungai, hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan, beberapa pendapat mengatakan bahwa mikroalgae itu mudah, tetapi pada kenyataannya tidak semudah itu, pertama yang harus dilakukan adalah mengisolasi mikroalgae tersebut dari alam (laut atau sungai), kemudian diambil beberapa spesies yang akan digunakan seperti contohnya clorela atau spirulina, untuk suplemen atau sebagai pakan alami untuk larva dan ikan.

Kemudian dari isolat murni tersebut kalau untuk biofuel dapat menghasilkan kandungan minyak yang cukup tinggi. Setelah diisolasi selanjutnya akan dioptimalisasi, jadi dari laut atau dari sungai yang beribu-ribu spesies tersebut dipindahkan ke dalam kolam, tambak, atau di bak, karena sulit untuk bisa membendung sungai atau laut seperti danau.

 
 

BBRP2B, Badan Litbang Kementerian Kelautan Perikanan telah mengembangkan tidak hanya pada skala laboratorium, tetapi sudah di ruangan terbuka, yang di dalam laboratorium adalah isolat murninya. Pada skala laboratorium yang dilakukan adalah memiisahkan yang akan di jadikan pakan, dan yang akan di jadikan biofuel, setelah itu baru dipindahkan ke luar ruangan, dalam hal ini adalah bak, kolam, dan tambak. Jika ingin mengembangkan biofuel, maka bak yang harus di persiapkan adalah yang memiliki daya tampung cukup besar, misalnya dengan kapasitas sepuluh ton keatas.

Beberapa jenis dari mikroalgae dapat di gunakan menjadi suplemen, tablet, alat kecantikan, dan pakan ikan, BBRP2B sudah membuat suplemen dari spirulina tetapi pada kenyataannya peneliti tidak dapat menjualnya secara langsung, maka harus di buat paten nya terlebih duhulu. BBRP2B sudah mempunyai paten satu produk yaitu minuman Alginat, dan sudah diproduksi sebagai minuman alginat yang berasal dari rumput laut, hal tersebut telah berlangsung selama tiga tahun, akan tetapi patennya belum juga muncul, sehingga paten tersebut mungkin sudah tidak valid lagi dan mungkin sudah di lupakan.

Contoh tersebut perlu disampaikan, karena ini merupakan kelemahan dari para Peneliti di Lembaga-lembaga Penelitian Pemerintah. BBRP2B sudah mampu dan produknya sudah diuji coba dan dikonsumsi oleh banyak orang, dan banyak juga yang memesan produk tersebut untuk menurunkan kolesterol, darah tinggi, dan lain-lain, tetapi dikalahkan oleh paten, sudah dicoba berbagai upaya, akan tetapi banyak juga masalah baru yang bermunculan, hal ini membuat para Peneliti patah semangat. Jika kita memproduksi besar-besaran dalam seratus ton untuk biomassa dan memperoleh produksi minyak, disini yang harus diperhatikan adalah optimasinya, mungkin secara studi pustaka bahwa CO2 memacu pertumbuhan mikroalgae, tetapi tekniknya kalau sudah masuk skala ton-tonan, bagaimana cara memasukkan CO2 ke dalam bak-bak yang ratusan ton tadi?, untuk memasukan CO2 tersebut diperlukan pupuk malalui tanaman tingkat rendah seperti tanaman tingkat tinggi, walaupun air laut sudah memiliki unsur yang mendukung perkembangan mikroalgae, tetapi kalau murni air laut, yang muncul adalah siliata jadi pito planktonnya hilang, yang berkembang adalah siliata. Hal-hal seperti ini yang sering terjadi dalam mengembangkan mikroalgae atau dengan perkataan lain proses pengembangbiakan mikroalgae tidak mudah, tetapi juga tidak sulit, hanya yang dibutuhkan ketelitian dan harus menguasai teknik nya.

Keunikan yang dapat diambil pelajaran dari pemaparan Narasumber adalah bahwa dalam proses pertumbuhan mikroalgae harus diperlakukan secara baik, selalu dilihat, dan disempatkan berkomunikasi dengan mikroalgae tersebut minimal menyapa mereka dengan say hello. Pada suatu ketika Narasumber tidak mempunyai waktu melihat mikroalgae tersebut karena kesibukan di luar kantor, yang terjadi kolam dimana mikrolagae tersebut dikembangbiakkan berwarna putih, mikroalgae pada mati.

Kesimpulannya:

  1. Pembudidayaan Mikroalgae sudah di kembangkan di perairan ulu desa.
  2. Sebagian besar di gunakan untuk bahan pakan dan bahan kosmetik bahkan suplemen, dan Bodreococus mempunyai kandungan minyak 15% sampai 60%.
  3. Mikroalgae mempunyai kapasitas mencapai 10% ke atas untuk menghasilkan minyak, dan biofuel, untuk saat ini mungkin belum terlihat,tetapi nanti setelah 10 tahun yang akan datang energi fosil kita habis, kita akan mencari dari tanaman laut yang di kembangkan di darat untuk di ambil minyaknya.
  4. Botryococcus braunii mempunyai kandungan minyak  15 – 60 %
  5. Kandungan minyak mikroalga > 10%, sehingga mempunyai peluang sebagai bahan baku biofuel.