Pembuatan Aditif Combustion Booster dan Pack Kolom untuk Mengurangi Emisi CO dan CO2 pada Kendaraan Bermotor

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 06:50  


Sektor transportasi memberikan kontribusi lebih dari separuh penyebab polusi udara yaitu sekitar 70%. Bahan pencemar udara yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor, antara lain Karbon Monoksida (CO), Oksida Sulfur (SOx), Oksida Nitrogen (NOx), Hidrokarbon (HC), Pb dan partikulat. Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi emisi CO dan kandungan CO2 dari gas buang kendaraan bermotor serta dapat menaikkan efisiensi pembakaran, dilakukan penelitian pembuatan aditif Combustion Booster dan pack kolom untuk mengurangi emisi CO dan CO2 pada kendaraan bermotor.

Aditif combustion booster dibuat dari campuran bahan dasar yaitu: ekstrak klorofil, ekstrak karoten, penstabil panas (FAME dan minyak goreng palm oil) dan pelarut. Aditif ditambahkan ke dalam bahan bakar Premium 88 untuk mengurangi emisi CO dari gas buang kendaraan bermotor.

Selain membuat aditif combustion booster, pada penelitian ini juga dilakukan pemilihan bahan adsorben yang mampu menyerap CO2 pada suhu tinggi dimana adsorben dimasukkan ke dalam suatu pack kolom yang dipasang di knalpot kendaraan. Adsorben yang dipilih dalam penelitian ini adalah zeolit, bentonit, kaolin dan kapur tohor.

Perbandingan Hasil Uji Emisi BBM Menggunakan Aditif Dengan Penstabil Panas

Minyak Goreng Palm Oil Vs FAME Pada Sepeda Motor VR.

Hasil uji beberapa sifat fisika-kimia, meliputi tekanan uap Reid (kPa), distilasi D-86, Specific gravity 60/60 °F, densitas 15 °C (Kg/m3), korosi lempeng tembaga, kestabilan oksidasi, kadar gum, Sulfur Merkaptan dari sampel BBM Premium dan BBM Premium + aditif dengan penstabil panas FAME maupun penstabil panas minyak goreng palm oil memenuhi spesifikasi BBM jenis bensin 88 sesuai Surat Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 3674 K/24/DJM/2006 tanggal 17 Maret 2006.

Uji emisi terhadap sepeda motor menggunakan BBM Premium 88 yang ditambah aditif dapat menurunkan emisi CO sebesar 7,2 % dengan penstabil panas Palm Oil dan 14,24 % dengan penstabil FAME.

Uji kemampuan penyerapan CO2 oleh ke-empat adsorben (Zeolit, Bentonit, Kaolin dan Kapur Tohor) pada suhu kamar memperlihatkan bahwa kapur tohor mempunyai kemampuan penyerapan terhadap CO2 paling besar dengan jumlah gram CO2 teradsorpsi per 100 gram adsorben selama 1 jam adalah sebesar 2,71 gram CO2.

Kapur tohor mempunyai kemampuan penyerapan CO2 pada suhu tinggi (sekitar 100 °C) sedangkan adsorben lain (Zeolit, Bentonit dan Kaolin) hampir tidak menyerap CO2 pada suhu 100 °C apalagi pada suhu yang lebih tinggi.