Pemetaan Geologi Dan Geofisika Kelautan Bersistem Skala 1:1.000.000 Untuk Lembar Peta 2114, 2115, 2214, 2215, 2314, 2315, 2414, 2415, 1909, 1910, 2009, dan 2010

Diposting : Selasa, 21 Februari 2012 09:07  


Luas seluruh wilayah teritorial Indonesia adalah 8 juta km2, mempunyai panjang garis pantai mencapai 81.000 km, luas wilayah perairan mencapai 5,8 juta km2 atau sama dengan 2/3 dari luas wilayah Indonesia, terdiri dari Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) 2,7 juta km2 dan wilayah laut territorial 3,1 juta km2. Laut memiliki dimensi pengembangan yang lebih luas dibanding dengan daratan karena laut lebih mempunyai keragaman potensi alam yang dapat dikelola. Akan tetapi, selama ini kemampuan untuk memanfaatkan dan mengelola sumber daya laut tersebut masih sangat terbatas.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi geologi dan geofisika kelautan sistematik dengan menyediakan data dasar geologi kelautan antara lain peta batimetri, peta intensitas magnet total, analisis mineral, analisis contoh sedimen, interpretasi rekaman seismik, dan analisis mikrofauna.

Untuk Lembar Peta 2114, 2115, 2214 dan 2215, lokasi kegiatan pemetaan secara sistematis termasuk ke dalam wilayah Teluk Tomini. Untuk Lembar Peta 2314, 2315, 2414, dan 2415 lokasi kegiatan di perairan antara Sulawesi Utara, Kepulauan Halmahera dan Kepulauan Banggai-Sula. Perairan tersebut sering disebut sebagai kelanjutan dari Teluk Tomini atau Teluk Gorontalo. Untuk Lembar Peta 1909, 1910, 2009, dan 2010, lokasi penelitian kegiatan secara geografis termasuk ke dalam wilayah bagian Perairan Spermonde dan Selatan Makasar (Sulawesi Selatan).

Kedalaman Dasar Laut

Hasil pemetaan di daerah Teluk Tomini menunjukkan bahwa kedalaman dasar laut di daerah survei pada umumnya lebih dari 1.500 meter, yang termasuk daerah laut dalam (200 – 4.000 meter). Bagian dangkal terdapat di tengah daerah survei dengan kedalaman 500 meter, sedangkan bagian paling dalam di bagian timur laut dengan kedalaman lebih dari 3.000 meter.

Di Teluk Tomini terdapat 3 – 5 sekuen seismik sedimen, dengan komposisi terdiri dari sedimen turbiditi dan sedimen pelagis. Di Selat Peleng, teridentifikasi lima sekuen sedimen yang menunjukkan kanal bawah laut. Dari penampang seismik diinterpretasikan juga basement terangkat, terutama di Teluk Tomini bagian timur. Di bagian tengah, dekat P. Una-Una (Gunungapi Colo) dan di bagian baratnya dapat juga diidentifikasikan adanya struktur yang menyerupai intrusi bawah laut.

Hasil pengukuran di daerah perairan Sulawesi Utara menunjukkan kedalaman lebih dari 2.000 meter (Gambar 58). Kedalaman laut yang dangkal hanya terdapat di sekitar pulau-pulau di daerah penelitian dengan kemiringan lereng yang sangat curam. Hasil interpretasi data seismik menunjukkan bahwa pada beberapa lereng tersebut berasosiasi dengan struktur geologi yang masih aktif. Rekaman memperlihatkan perubahan morfologi dari sisi Sulawesi yang berundulasi ke arah Cekungan Gorontalo yang bermorfologi datar. Model morfologi tersebut sangat umum terbentuk di sepanjang sisi utara Pulau-pulau Taliabu, Mangoli dan Sulawesi bagian timur.

 

 

Peta batimetri daerah lintasan Perairan Spermonde yang

pada umumnya mempunyai kedalaman lebih dari 2.000 meter.

 

Pada umumnya, hasil pengukuran kedalaman laut di sepanjang lintasan perairan Spermonde menunjukkan kedalaman kurang dari 2.000 m. Kedalaman laut dangkal hanya terdapat di sekitar paparan (terumbu karang) dari Paparan Pasternoster, dan Doang-Spermonde. Sedangkan kemiringan lereng yang sangat curam dijumpai di bagian utara Paparan Doang, yang berhubungan dengan pergerakkan arus ARLINDO. Hasil sementara interpretasi data seismik multikanal, menunjukkan bahwa bentuk kontur yang memanjang barat-timur dalam Paparan Doang-Spermonde berhubungan dengan struktur geologi (patahan), sedangkan bentuk kontur baratlaut-tenggara dalam Cekungan Spermonde juga berasosiasi struktur geologi.

Telah dilaksanakan 21 lintasan seismik multikanal yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan pemetaan geomagnetik, dengan panjang lintasan mencapai lebih dari 2.228 kilometer. Terdapat empat satuan batuan utama yang terekam dalam lintasan seismik mulai dari Paparan Doang-Spermonde hingga Cekungan Spermonde, yaitu batuan sedimen yang mengalasi Cekungan Spermonde berumur Eosen, batuan sedimen yang berasosiasi dengan terumbu karang yang diperkirakan berumur Oligosen (Paleogen), batuan sedimen Miosen dan batuan sedimen Pliosen (Neogen).

Anomali Magnet Total

Intensitas anomali magnet total menunjukkan +60 nT di bagian tengah daerah survei atau sebelah barat P. Una-una, dan -150 nT di bagian selatannya atau di sebelah utara perairan Poso. Anomali tinggi ditimbulkan oleh keberadaan tubuh intrusi granitik yang memiliki suseptibilitas yang cukup tinggi.

Pengukuran kemagnetan bumi di perairan Sulawesi Utara memperlihatkan bahwa nilai kemagnitan bumi bervariasi dari 40.450 - 41.100 gamma. Terdapat kecenderungan perubahan nilai yang menarik bahwa ke arah Pulau Taliabu dan Peleng nilai kemagnetan bumi semakin tinggi. Pulau-pulau ini dikenal sebagai mikrokontinen yang terlepas dari Benua Australia. Pada lintasan-lintasan SMLK-7, SMLK-9, SMLK-10 dan SMLK-13/14 terlihat adanya anomali-anomali magnetik dengan amplitudo tinggi dan berfrekuensi tinggi pada lokasi-lokasi yang diperkirakan merupakan tepi dari Cekungan Gorontalo.

Hasil pengukuran di perairan sekitar Spermonde memperlihatkan bahwa nilai kemagnitan bumi bervariasi dari 41.150-44.300 gamma. Terdapat kecenderungan perubahan nilai yang menarik bahwa ke arah pulau-pulau sekitar Paparan Doang nilai kemagnitan bumi semakin tinggi, sedangkan ke arah utara dan selatan (Paparan Spermonde) memperlihatkan nilai kemagnetan semakin kecil.

Analisis Sedimen

Hasil analisis contoh sedimen dasar laut Teluk Tomini dikelompokkan menjadi mineral lempung, lempung pasiran, dan pasir lempungan. Komposisi hasil gravity core 80-97% terdiri dari mineral lempung yang di dalamnya terdiri dari fragmen batuan dengan komposisi antara 1-5% fraksi butiran berukuran halus- kasar (0,5 mm-0,8 cm), yaitu berupa batuan ultramafik, batuan vulkanik (tufa), serpentinit, batuan malihan, batuan sedimen, batuan tak terperi, butiran piroksen, butiran mineral berat (bijih), dan butiran olivine.

Hasil uji mikrofauna menunjukkan bahwa partikel sedimen dasar laut didominasi lebih dari 90% foraminifera planktonik. Kelimpahan mikrofauna ini cukup tinggi dimulai dari kedalaman sekitar 800 m. Sedangkan pada kedalaman 600 - 800 m jumlahnya bervariasi dan bercampur dengan foraminifera bentonik serta partikel biogenik lain. Keterdapatan pink rubber dalam beberapa sampel sedimen menunjukkan adanya aliran air dari Samudera Pasifik.

Jenis batuan dalam bentuk fragmen-fragmen batuan, yaitu basalt, dunit, serpentinit, pasir vulkanik, pasir gampingan dengan fragmen cangkang kerang. Hasil analisis kimia tanah menunjukan pH antara 6-8; konduktifitas 15-50,7 ms/cm; salinitas 10-35; dan suhu 18-24°C. Hasil analisis SEM menunjukkan komposisi mineral utama pada contoh batu lempung dan batu lempung pasiran adalah smectite, lempung campuran (mixed layer clays) “illite-smectite”, dan kaolinite, berupa mineral lempung “alogenik”, yang artinya terbentuk non-diagenesis, melainkan hasil sedimentasi secara normal di laut. Semua contoh mempunyai sifat fisik kurang kompak hingga kompak dan agak padat, dan semua contoh batu lempung dan batu lempung adalah impermeable.

Sementara di perairan Sulawesi Utara, hasil interpretasi awal secara umum menunjukkan bahwa terdapat tiga satuan batuan utama yang terekam dalam lintasan-lintasan seismik. Batuan dasar yang kemungkinan merupakan kompleks batuan tua yang berupa ultra basa dan batuan sedimen Permo Trias, batuan sedimen Paleogen dan batuan sedimen Neogen. Salah satu keuntungan dari data seismik adalah diketahuinya hubungan antar batuan di atas dan struktur geologi yang kontinyu di sepanjang lintasan. Pengambilan contoh sedimen dilakukan di 34 titik lokasi, seperti terlihat pada Gambar di bawah ini:

 

Lokasi pengambilan contoh sedimen (titik-titik berwarna kuning)

dengan latar belakang peta batimetri dan peta geologi.

 

Dari 34 contoh sedimen yang diambil, 18 lokasi menggunakan gravity corer dan sisanya grab sampler. Berdasarkan pengamatan sayatan oles dari 34 contoh sedimen permukaan dasar laut di atas secara umum jenis sedimen terdiri atas: lempung lanauan, pasir (halus – kasar) lumpuran dan gampingan. Namun demikian pada lokasi GM3-10/ 2314-11 atau di sekitar barat laut P. Taliabu pada kedalaman 442 meter diperoleh material hancuran berupa fragmen (lithic) dari batuan granitoid dan breksi disamping rombakan terumbu karang.

 

Pengambilan contoh sedimen di perairan Spermonde dilakukan di 28 titik lokasi menggunakan gravity corer. Analisis lanjutan masih harus diteruskan terhadap data seismik multikanal, dengan menelaah data-data geologi lain dalam membantu interpretasi.