Penanggulangan gas buang CO2 Pada Project Gas Natuna

Diposting : Kamis, 08 Desember 2011 08:01  


Penanggulangan gas buang CO2 Pada Project Gas Natuna

Pengelolaan Pengetahuan dan Inovasi telah ditetapkan sebagai driver dalam Rantai Nilai Litbang ESDM. Salah satu bentuk implementasi Pengelolaan Pengetahuan (Knowledge Management) adalah melalui forum Knowledge Sharing, dimana pada forum tersebut dilakukan proses untuk meng-capture tacit knowledge untuk kemudian ditransfer baik secara langsung maupun tidak langsung kepada yang membutuhkan.

Sekretariat Badan Litbang ESDM memprakarsai dan mempelopori Forum Knowledge Sharing ini di lingkungan Badan Litbang ESDM, dengan harapan bahwa nantinya akan diikuti oleh Knowledge Sharing para pakar dan yang lainnya, tidak hanya terbatas hanya LEMIGAS, tetapi juga terbuka untuk unit-unit lainnya di lingkungan badan Litbang ESDM tentunya. Harapan Kepala Badan Litbang ESDM pada acara Pembukaan Forum tersebut adalah mari kita ambil makna dan hikmah dari berbagi pengalaman dalam bentuk Sharing Knowledge ini. Selanjutnya semua Unit perlu segera memikirkan konsep dan metodologi untuk meng-capture tacit Knowledge para pendahulu (senior) melalui Forum Knowledge Sharing dan sekaligus mengembangkan sistem informasi untuk mengelola pengetahuan-pengetahuan personil tersebut menjadi pengetahuan organisasi.

 

Melalui Forum pertama kali ini, Sekretariat Badan Litbang ESDM mencoba untuk menggali lebih jauh, mengungkap dan mengangkat pengalaman penanganan tentang isu terkait CO2, dengan menghadirkan Narasumber Prof. Riset Dr. Maizar Rahman dengan judul Penanggulangan Gas Buang CO2 + H2S Proyek Gas Natuna yang merupakan Kilas Balik Kajian LEMIGAS.

 

Lokasi Proyek/Lapangan Gas Natuna berada pada Block D-Alpha di tengah laut Cina Selatan yang ditemukan pada tahun 1972. Pada tahun 1980 ESSO Joint Venture dengan Pertamina mendapatkan  Kontrak Bagi Hasil (KBH). Fenomena Gas Natuna dengan Produksi sekitar 5.200 MCFD yang mempunyai komposisi 69% CO2; 0,6% H2S; 0,4% N2; 20% Hidrokarbon dengan Cadangan sebesar 180 TCF pada saat itu. Jika gas ini diproduksi maka akan dihasilkan LNG hanya 8 Juta Ton per tahun dengan 89% gas buang yang terdiri atas CO2 dan H2S dengan jumlah masing-masing sebesar 72 juta Ton CO2 per tahun dan 0,94 Juta Ton H2S pertahun.

Untuk penanganan CO2 tersebut, pada tahun 1980 sampai dengan 1982 Exxon melakukan studi terkait penanganan CO2 dengan opsi apakah dibuang ke udara, ke laut, bawah tanah, atau diomanfaatkan. Badan Koordinasi Kontraktor Asing (BKKA) Pertamina pada tahun 1985 menugaskan Puslitbang Teknologi Migas "LEMIGAS" melakukan kajian terhadap hasil studi yang disampaikan oleh Exxon.

Pada kesempatan tersebut Narasumber menyampaikan secara mendalam tentang hasil kajian LEMIGAS terhadap keempat opsi Penanganan Gas CO2 dan H2S meliputi Pembuangan ke Udara, Pembuangan ke Laut, Pembuangan Bawah Tanah dan Pemanfaatan CO2 menjadi Urea, Metanol, dan Hidrokarbon Sintetik. Untuk yang terakhir ini merupakan Studi tersendiri yang dilakukan oleh LEMIGAS bersama dengan Para Ahli dari berbagai disiplin ilmu baik dari lingkungan LEMIGAS, Perguruan Tinggi, Lembaga Litbang lain dan Pertamina.

Prof. Riset Dr. Maizar Rahman juga menyampaikan Konsep Dasar Pemanfaatan CO2 Natuna dan PLTA Mamberamo, dan Strategi Pemanfaatan Listrik Mamberamo dan CO2 Natuna untuk Petrokimia. Selain itu Narasumber menyampaikan status saat ini yaitu:

  1. Carbon Capture Storage (CCS) adalah satu-satunya cara, tetapi masih  mahal dan memerlukan pemantapan secara teknologi.
  2. Penyimpanan CO2 di laut dalam, masih merupakan alternatif, sehingga masih diperlukan kaajian lebih jauh.
  3. Pemanfaatan CO2, masih dalam taraf pengembangan teknologi, akan tetapi tidak akan mampu meyerap semua emisi CO2 yang dihasilkan.