Penelitian Geologi Teknik Dan Geofisika Kelautan Untuk Penentuan Kriteria ROW (Rights Of Way) Jembatan Dan Kabel Bawah Laut Sumatra-Jawa

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 02:26  


Pemerintah melalui Dirjen Penataan Ruang, Kementerian Pekerjaan Umum menanggapi tentang percepatan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) agar ditetapkan dalam struktur dan pola ruang RTRWN (Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional) melalui pendekatan wilayah. Dalam hal ini JSS merupakan sarana penghubung antarwilayah di Pulau Jawa dan Sumatera. Penetapan JSS merupakan bagian dari rencana pengembangan sistem jaringan transportasi nasional yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera sebagai komplementer dari transportasi laut.

Dalam kaitannya dengan hal ini, guna mempercepat pembangunan serta meningkatkan integrasi perekonomian Jawa Sumatera, meningkatkan efisiensi dan efektivitas investasi berskala besar, pemerintah menindaklanjuti rencana pembangunan JSS dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang Tim Nasional Persiapan Pembangunan Jembatan Selat Sunda.

Tujuan penelitian untuk memperoleh data dan informasi yang dapat dijadikan parameter penentu kriteria ROW jembatan dan kabel listrik bawah laut Sumatera – Jawa, dengan sasaran memperoleh gambaran mengenai karakteristik dan daya dukung kawasan perairan dalam bidang geologi teknik dan geofisika kelautan.

Berdasarkan penelitian didapatkan bahwa pasang surut bertipe campuran condong ke harian ganda dengan F : 0,771. Arus dengan kecepatan maksimum 1,46 m/s dan minimum 0,01 m/s. arus terbesar pada saat angin dari barat daya. Angin dan gelombang terbanyak arah utara dan barat, dengan fetch efektif dari arah barat daya dan barat. Kondisi lingkungan perairan secara umum (mencakup kecerahan, suhu, pH, salinitas, konduktivitas, ammonium, nitrat, nitrit, COD, BOD, KMnO4, Cu, Pb, Zn, Fe, Mn, Cd, Cr) berada di bawah baku mutu.

Sedimen permukaan daar laut yang ditemukan di lokasi penelitian beragam, terdiri dari karang, pasir biogenik, pasir, pasir lanauan, lanau pasiran, lanau lempungan. Secara geologi, alternatif rencana poros jembatan Jawa – Sumatra merupakan batas pengendapan paling timur Kompleks Gunungapi Krakatau – Sebesi dan batas terbarat kompleks Gunungapi Karang – Gede. Secara umum pengaruh tektonik berkurang ke arah timur laut, namun beberapa sesar normal berarah hampir utara – selatan masih terlihat.

Karakteristik wilayah pantai memiliki topografi datar dan penggunaan lahan, merupakan daerah industri yang berada hampir di sepanjang pantai. Di bagian selatan merupakan daerah pemukiman, dengan pantai terbuka yang berbatasan langsung dengan laut. Pengaruh laut yang besar terlihat dengan kondisi pantai yang abrasi di daerah selatan, sedangkan pada daerah pabrik umumnya telah dibatasi dengan bangunan permanen pantai penjaga abrasi.

Di daerah P. Sangiang umumnya berupa datar, landai dan curam. Terlihat beberapa lokasi merupakan pantai curam dengan batu-batu langsung ke arah laut. Pada bagian depan pulau umumnya dipenuhi oleh terumbu karang. Wilayah sumatera secara umum kondisinya data, landai, dan berbukit di bagian belakangnya. Secara umum kondisi di wilayah sumatera masih banyak daerah terbuka. Daerah pemukiman dan pelabuhan berada di Bakauhueni dan sekitarnya. Kondisi batimetri dan koridor umum ROW untuk jembatan dan kabel bawah laut terlihat pada gambar berikut.

 
Kondisi morfologi wilayah penelitian dan ROW jalur jembatan dan kabel bawah laut Sumatera – Jawa.  

Secara umum koridor ROW jembatan dan kabel bawah laut berada pada punggungan yang merupakan batas dari daerah yang lebih dalam baik di sisi sumatera ataupun di sisi jawa.