Penelitian Pengaruh kandungan Logam dalam Minyak Solar 48 dan Uji Kinerja pada Mesin Diesel Statis

Diposting : Rabu, 15 Februari 2012 03:12  


Solar adalah bahan bakar motor diesel yang digunakan untuk motor diesel putaran tinggi (otomotif) sehingga kita kenal dengan nama High Speed Diesel (HSD). Solar yang digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga diesel adalah minyak Solar 48. Dalam spesifikasi minyak Solar 48 maupun minyak solar 51 tidak menetapkan batasan kandungan logam. Adanya kandungan logam dalam minyak Solar dapat menimbulkan hot spot pada komponen bagian dalam ruang bakar motor diesel.

Mula-mula terbentuk ash deposit yang akan dapat menyebabkan terjadinya korosi. Semakin banyak terjadi penumpukan deposit pada lokasi tersebut suhu mesin akan meningkat secara signifikan sehingga akan menyebabkan terjadinya oksidasi pada temperatur tinggi. Jika kondisi ini terus berlanjut dapat menimbulkan retak (crack) yang akhirnya dapat mempengaruhi kinerja mesin dan memperpendek umur mesin.

Tujuan penelitian adalah untuk menguji kandungan logam yang terdapat dalam minyak solar 48 eks- Pertamina yang dipasarkan di Indonesia dan meneliti pengaruh kandungan logam dalam minyak solar terhadap kinerja mesin diesel statis (Genset) sebagai masukan untuk pengembangan spesifikasi minyak solar.

Dalam penelitian dilakukan percobaan laboratorium, antara lain pengujian karakteristik minyak solar 48, analisis kandungan logam dan uji kinerja pada mesin diesel genset, meliputi konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang dan rating komponen-komponen mesin genset. Mesin yang digunakan dalam penelitian adalah mesin Genset Yanmar TF-85 di sistem injeksi langsung (direct injection) dengan kapasitas 5 kVa. Mesin tersebut banyak dipakai di masyarakat sebagai pembangkit tenaga listrik di rumah tinggal.

Bahan bakar minyak solar 48 yang digunakan untuk uji kinerja diberi kode SFR dan SFA di mana SFR adalah minyak solar yang mengandung kadar logam lebih kecil dibanding minyak solar 48 SFA.Hasil pengujian sifat-sifat fisika/kimia masing-masing minyak solar 48 SFR dan SFA yang digunakan pada uji kinerja secara keseluruhan memenuhi spesifikasi minyak solar 48 sesuai surat keputusan Dirjen Migas No. 3675 K/24/DJM/200 tanggal 17 Maret 2006.

Hasil pengujian kinerja dilihat dari hasil analisis konsumsi bahan bakarnya menunjukkan konsumsi bahan bakar pada pengujian SFR adalah 7,82 liter/jam, sedangkan SFR adalah 7,88 liter/jam. Rata-rata konsumsi penggunaan bahan bakar SFA selama 100 jam pengujian lebih besar 0.76%. Hasil pengujian emisi gas buang yang meliputi gas CO, HC dan Opasitas bahan bakar SFR dan SFA dapat dilihat padaTabel berikut ini :

Hasil pengujian emisi gas buang

Rating dilakukan pada komponen mesin dalam ruang bakar, meliputi kepala silinder (Cylinder Head), Torak (Piston) dan Katup (Valve). Rating deposit pada ruang bakar mesin dilakukan dengan mengacu pada metode CEC M02-T70. Deposit pada bagian ruang bakar mesin dinilai secara merit dan dinyatakan secara numerik dengan nilai antara 0 sampai 10. Nilai 10 diartikan sangat bersih atau tidak ada deposit, sedangkan 0 diartikan sangat kotor dengan deposit menutup seluruh bagian.

Hasil rating dan penimbangan berat deposit untuk kepala silinder yang menggunakan bahan bakar SFR lebih tinggi dibandingkan menggunakan bahan bakar SFA dengan perbedaan 12.52%. Untuk berat deposit kepala silinder yang menggunakan bahan bakar SR adalah 0.3225 gr sedangkan yang menggunakan bahan bakar SFA adalah 0.5860 gr dengan perbedaan 81.71%. Dengan demikian kepala silinder yang menggunakan bahan bakar SFR lebih bersih dari yang menggunakan bahan bakar SFA.Hasil pengukuran saringan bahan bakar didapat selisih berat saringan bahan bakar yang menggunakan SFR lebih kecil dibandingkan yang menggunakan bahan bakar SFA dengan perbedaan 53.16%.

Secara keseluruhan hasil uji kinerja bahan bakar minyak solar 48 SFR lebih bagus dibanding kinerja bahan bakar minyak solar 48 SFA. Kandungan logam dalam minyak Solar 48 dapat menyebabkan pemakaian bahan bakar lebih boros dan meningkatkan emisi gas buang serta opasitasnya.