Pengembangan Sistem Transportasi Dan Stockpile Batubara Di Kawasan Sungai-Pesisir Wilayah Kab. Kapuas, Prov. Kalimantan Tengah

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 03:01  


Sungai merupakan sarana transportasi yang efektif untuk mengangkut hasil bumi dan tambang khususnya di Kalimantan. Namun, kendala Sungai Kapuas sebagai sarana transportasi menyebabkan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah merencanakan membangun jalur kereta api dari area tambang yang berada di hulu sungai hingga Desa Batanjung di muara sungai. Di daerah Muara Sungai Kapuas ini diwacanakan merupakan sarana pelabuhan terpadu yakni pelabuhan peti kemas, PLTU dan stockpile batubara.

Tujuan penelitian adalah menginventarisasi data dan informasi mengenai karakteristik Sungai Kapuas yang terkait dengan tema transportasi batubara di perairan pedalaman (sungai). Lokasi penelitian secara geografis berada pada koordinat 114o09’43” – 114o33’37” BT dan 2o01’24” – 3o25’32” LS. Sedangkan secara administratif, sebagian besar lokasi studi berada di Kecamatan Kapuas Kuala, Kabupaten Kapuas dan Provinsi Kalimantan Tengah.

Sungai Kapuas daerah studi, dari muara sungai hingga hulu sungai minimal berjarak ±50 km hingga Kota Kuala Kapuas mempunyai sistem Estuaria yang dominan dipengaruhi oleh pasang surut. Pasang surut bertipe Campuran cenderung keharian Tunggal, nilai F = 2.148 dan Zo =171.5, tunggang air terukur berkisar 1,7 – 2,7 meter yang termasuk dalam Mesotide (2-4 meter), dengan bentuk kurva pasut tidak simetri yakni waktu pasang 7-9 jam, waktu surut 15-17 jam dan waktu slack 2-3 jam. Kondisi pasang maupun surut di muara sungai lebih dulu terjadi dibandingkan hulu dengan beda fasa antara stasiun Batanjung dan Kuala Kapuas 1-2 jam. Kondisi pasang surut dominan mempengaruhi arus sungai-laut, saat pasang arah arus menuju ke hulu sungai dan saat surut arah arus menuju muara sungai. Kecepatan arus maksimal mencapai 1.25 m/s (2.43 knot). Perubahan pasang surut air lebih cepat 2 – 2.5 jam dari pada perubahan arah pasang surut arus.

Kondisi batimetri merupakan kondisi air surut terendah (LWS) selama survei dengan level 0.61 meter atau sebanding dengan level 0.31 meter pada prediksi pasang surut ambang luar Barito atau Teluk Sampit.

Peta batimetri Sungai Kapuas daerah studi terdapat 2 lokasi yang bermasalah bagi kapal ponton batubara dengan draft 4 meter pada kondisi air surut, yakni Lokasi Muara Tamban (km 20-25), kedalaman 4-13 m dengan lebar alur sempit 20-250 m dan Lokasi Ambang Luar (km 49-58), lebar alur 300-1200 m dengan kedalaman yang dangkal 2-4 m.

 
Peta Alur Pelayaran dan Peta GPS  

 

Pengembangan sistem transportasi batubara di muara Sungai Kapuas dapat dilakukan dengan 2 alternatif, yakni mengatur perjalanan sesuai jadwal pasang surut sehingga berada di daerah dangkal ambang luar pada kondisi air pasang dan menggunakan navigasi pelayaran menggunakan Peta GPS Alur Pelayaran Sungai Kapuas dan memodifikasi ukuran kapal pontoon. Alternatif lain yaitu melakukan pendalaman dan pelebaran alur.

Perhitungan volume sedimen permukaan dasar sungai-laut daerah kendala di Ambang Luar berdasarkan lebar alur 400 m, panjang alur yang dikeruk 8.25 km, untuk kedalaman akhir kerukan 4m = 8.99 juta m3 dan kedalaman akhir 5m = 15.59 juta m3. Jumlah volume hasil keruk yang relatif besar dapat di buang/timbun di area rencana Pelabuhan Batanjung dan area gosong hingga membentuk pulau. Jenis kapal keruk yang disarankan adalah Cutterhead Suction Dredge dan Bucket Wheel Suction Dredge, tipe ini tidak hanya hisap tapi juga membongkar lapisan permukaan dasar sungai-laut yang padat/liat.