Pengindraan Jauh Untuk Mengestimasi Penyerapan Karbon Di Daerah Reklamasi Pertambangan

Diposting : Rabu, 22 Februari 2012 05:43  


Estimasi biomassa hutan tropis telah mendapat banyak perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena perubahan biomassa regional adalah komponen penting terkait dengan perubahan iklim. Kajian biomassa ini sangat penting dipelajari untuk mengetahui siklus hara dan aliran energi dari suatu ekosistem hutan hujan tropika khususnya di Indonesia. Biomassa hutan memiliki kandungan karbon yang cukup potensial. Hampir 50% dari biomassa vegetasi hutan tersusun atas unsur karbon.

Untuk melengkapi akan dilakukan penghitungan kerapatan pohon dan biomassa hutan. Dari hasil penghitungan kerapatan pohon tersebut dapat diprediksi jumlah gas CO2 yang dapat diserap. Untuk itu diperlukan penelitian mengenai kerapatan pohon dan biomassa hutan pada wilayah yang diakibatkan oleh adanya aktifitas penambangan khususnya penambangan batubara.

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui perubahan tutupan vegetasi pada kegiatan aktifitas pertambangan batubara, yaitu melakukan hitungan pada kawasan hutan yang terbuka dan lahan revegetasi serta menghitung penyerapan karbon pada kawasan hutan di sekitar pertambangan batubara (daerah reklamasi dan baseline area).

Metode yang digunakan dalam pembuatan informasi estimasi penentuan penyerapan karbon pada kawasan aktifitas pertambangan batubara adalah menggunakan klasifikasi secara digital dengan interpretasi visual dan deliniasi obyek langsung melalui layar monitor dengan menggunakan penggabungan data multispektral (color composit).

Luas Tutupan Lahan di Masing-masing Lokasi PKP2B dan KP

Peta sebaran vegetasi di PT Bukit Banduri Energi, PT Lanna Harita Indonesia,

dan PT Insani Bara Perkasa.

Dengan menggunakan citra ALOS Palsar maka potensi simpanan karbon pada PT Gunung Bayan Pratama Coal sebesar 22,351 Ton/Ha pada daerah reklamasi dan 29,675 Ton/Ha pada dearah Base Line. Pada daerah reklamasi PT. Trubaindo memiliki potensi simpanan karbon sebesar 2,249 Ton/Ha sementara pada daerah Base Line sebesar 52,684 Ton/Ha. Daerah reklamasi pada PT. Tanito Harum memiliki potensi simpanan karbon sebesar 85,054 Ton/Ha sementara pada daerah Base Line sebesar 12,203 Ton/Ha. Daerah reklamasi pada PT. BBE memiliki potensi simpanan karbon sebesar 37,341 Ton/Ha sementara pada daerah Base Line sebesar 10,914 Ton/Ha. Daerah reklamasi pada PT. Insani Bara Perkasa memiliki potensi simpanan karbon sebesar 7,83 Ton/Ha sementara pada daerah Base Line sebesar 9,19 Ton/Ha. Daerah reklamasi pada PT. Insani Bara Perkasa memiliki potensi simpanan karbon sebesar 12,229 Ton/Ha sementara pada daerah Base Line sebesar 56,665 Ton/Ha.

Estimasi serapan karbon pada daerah Reklamasi PT Gunung Bayan Pratama Coal sebesar 39.312,29 ton dan 1.260.146,41 ton pada daerah base line, 3.332,30 ton untuk daerah reklamasi PT Trubaindo dan 1.619.230,46 ton pada daerah base line, 32.467,2 ton pada daerah PT Bukit Baiduri dan 68.417,14 ton pada daerah base line, 62.556,87 ton untuk daerah reklamasi PT Tanito Harum dan sebesar 43.506,14 ton pada daerah base line, 8.701,2 ton untuk daerah reklamasi PT Insani Bara Perkasa dan sebesar 247.836,44 ton pada daerah base line, 115.927,72 ton untuk daerah reklamasi PT Lanna Harita Indonesia sebesar 870.509,55 ton pada daerah base line.

Dari segi teknis metoda analisis yang digunakan tidak bermasalah tetapi bila digunakan citra Aster dan Avnir-2 pada daerah penelitian hanya 3 perusahaan yang dapat dianalisis.